Materi Literasi Digital: Pengertian, Pilar, Manfaat, dan Contoh Penerapannya | KangTunjuk Blog
Kesimpulan : Pelajari materi literasi digital mulai dari pengertian, empat pilar, manfaat, hingga contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
Apakah kamu pernah membaca berita di media sosial yang disajikan dengan berbagai sudut pandang? Materi literasi digital sangat penting untuk dimiliki sehingga kamu bisa memilah informasi yang bukan hoaks, apalagi saat ini hidup kita bersinggungan dengan dunia digital.
Agar kamu tahu apa itu literasi digital beserta manfaat dan penerapannya, simak artikel berikut ini. 🌍📱
Daftar Isi
- Informasi Pentingnya Materi Literasi Digital
- Apa Itu Literasi Digital?
- Empat Pilar Literasi Digital
- Manfaat Literasi Digital
- Contoh Penerapan Literasi Digital di Berbagai Sektor
- Tantangan Penerapan Literasi Digital di Indonesia
Informasi Pentingnya Materi Literasi Digital
Kemudahan akses terhadap dunia digital saat ini bisa kamu dapatkan tanpa harus bersusah payah keluar rumah atau pergi ke tempat yang jauh.
Kamu bisa mencari informasi secepat kilat, berbelanja kebutuhan sehari-hari, bekerja tanpa harus datang ke kantor, dan mencari referensi belajar dari berbagai belahan dunia.
Sayangnya, kemudahan akses tersebut sering kali tidak disertai dengan kemampuan untuk menyaring informasi secara tepat.
Barangkali kamu pernah melihat berita dengan judul clickbait yang provokatif untuk menarik perhatian. Alih-alih menemukan komentar yang mengkritisi konten berita, terkadang justru lebih banyak yang menarik kesimpulan dari judul saja.
Semua orang mungkin bisa mengoperasikan handphone dan memanfaatkan internet, tetapi ternyata tidak semua bisa menggunakan teknologi secara bijak.
Tidak jarang kamu bisa terjebak dalam suatu informasi seragam karena sama seperti pendapat pribadimu, sehingga informasi lain yang sebenarnya tepat tapi bertolak belakang dengan pendapatmu justru tidak kamu dapatkan.
Apa Itu Literasi Digital?
Literasi digital umumnya didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengakses, memahami, mengevaluasi, menggunakan, dan menciptakan informasi melalui perangkat serta teknologi digital secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.
Melihat definisi tersebut, kamu bisa menyimpulkan bahwa literasi digital tidak hanya terbatas pada kemampuan untuk mengoperasikan gawai atau aplikasi, tetapi juga menerapkan kemampuan berpikir kritis dalam menyaring informasi, memahami etika bermedia, serta menjaga keamanan data pribadi.
Konsep ini dipopulerkan pertama kali oleh Paul Gilster melalui bukunya yang berjudul Digital Literacy tahun 1997. Definisi tersebut kemudian diadaptasi dan dikembangkan oleh banyak lembaga, tidak terkecuali oleh pemerintah Indonesia.
Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), mendefinisikan literasi digital sebagai kemampuan individu dalam memanfaatkan teknologi digital untuk berkomunikasi, bekerja, dan menyelesaikan masalah secara produktif sekaligus aman.
Definisi dari Komdigi tersebut yang menjadi dasar diselenggarakannya berbagai program nasional terkait peningkatan literasi digital di Indonesia.
Literasi digital terasa semakin penting seiring dengan tingginya konsumsi internet masyarakat di Indonesia. Berdasarkan Indeks Literasi Digital Indonesia (ILDI) yang dirilis Katadata Insight Center, ditemukan tren kenaikan setiap tahun.
Terdapat empat pilar yang diukur, salah satunya adalah pilar keamanan digital dengan skor terendah. Sementara itu, pilar budaya digital meraih skor tertinggi.
Melihat hasil tersebut, bisa disimpulkan bahwa masyarakat mungkin sudah terbiasa dengan teknologi, tetapi rentan dalam hal perlindungan data dan keamanan.
Empat Pilar Literasi Digital
Penyusunan kerangka literasi digital nasional dilakukan Direktorat Jenderal Aplikasi dan Informatika (Ditjen Aptika) Kominfo bersama Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.
Pilar yang disingkat sebagai CABE (Cakap, Aman, Budaya, dan Etika) tersebut sudah diluncurkan pada April 2021 secara resmi.
Berikut penjabaran masing-masing pilar beserta contoh penerapannya:
1. Cakap Digital (Digital Skills)
Pilar cakap digital mencakup kemampuan teknis untuk mengoperasikan perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan sistem operasi digital untuk kebutuhan sehari-hari.
Apa saja kecakapan dasar yang termasuk?
- Mengunduh (download) dan mengunggah (upload) berkas
- Menggunakan aplikasi perkantoran
- Memanfaatkan platform pembelajaran daring
Pada level yang lebih tinggi, kecakapan tersebut bisa berkembang ke kemampuan coding, desain grafis, hingga analisis data.
Contoh penerapan pilar cakap literasi digital: seorang guru yang mampu membuat materi ajar interaktif menggunakan aplikasi presentasi atau video pembelajaran.
2. Aman Digital (Digital Safety)
Pilar keamanan digital mencakup kemampuan perlindungan data pribadi, pengetahuan terhadap ancaman siber, serta penerapan langkah proteksi seperti kata sandi yang kuat dan autentikasi dua faktor. Selain itu, kewaspadaan terhadap modus penipuan online dan phishing juga terdapat pada pilar aman digital.
Contoh penerapan pilar aman digital: tidak membagikan nomor OTP sembarangan, memverifikasi tautan mencurigakan sebelum mengekliknya, waspada terhadap upaya situs palsu dalam menjebak pengambilan data, menggunakan kata sandi berbeda yang kompleks, dan rutin memperbarui kata sandi pada akun penting.
3. Budaya Digital (Digital Culture)
Pilar budaya digital menekankan pemahaman nilai kebangsaan, norma sosial, dan identitas budaya ketika berinteraksi di ruang digital. Cakupan pilar ini berupa literasi saat berinteraksi di media sosial, mengetahui dampak teknologi terhadap dinamika sosial, dan kemampuan untuk berpartisipasi secara aktif dan positif.
Tujuan diterapkannya pilar ini adalah agar masyarakat tetap menjunjung nilai Pancasila dan kearifan lokal walaupun aktivitasnya dilakukan melalui platform global. Harapannya, pengguna mampu beradaptasi dengan cepat jika ada perubahan tren.
Contoh penerapan pilar budaya digital: menggunakan bahasa yang santun di media sosial, tidak menyebarkan konten hoaks dan konten pemecah belah persatuan.
4. Etika Digital (Digital Ethics)
Pilar etika digital berkaitan dengan kemampuan menyadari, mempertimbangkan, dan menerapkan tata krama ketika berinteraksi secara digital, termasuk menghormati hak cipta.
Selalu ingat bahwa di balik ponsel dan monitor di depanmu ada manusia nyata, sehingga kamu tidak bisa berinteraksi sesuka hati.
Contoh penerapan pilar etika digital: menghormati hak cipta orang lain dengan mencantumkan sumber saat mengutip karyanya, menghormati privasi orang lain dengan tidak menyebarkan berita tanpa memverifikasi kebenarannya, tidak melakukan perundungan siber, dan tidak menulis komentar kasar atau memaki-maki saat berdiskusi di kolom komentar publik.
Manfaat Literasi Digital
Literasi digital bisa memberikan banyak manfaat yang luas untuk diri sendiri, orang lain, dan masyarakat di sekitar, seperti:
- Mencegah penyebaran hoaks, yaitu berita atau fakta yang direkayasa. Kemampuan untuk memilah informasi dan memverifikasinya membuatmu tidak mudah percaya berita bohong, penipuan berkedok pemberian hadiah dari suatu instansi, atau pesan berantai yang menyesatkan.
- Melindungi privasi dan keamanan data, seperti mengurangi risiko menjadi korban penipuan online, phishing, dan kebocoran data pribadi.
- Meningkatkan produktivitas, misalnya memudahkan pekerjaan, memungkinkan kolaborasi dengan tim melalui media sosial, dan meningkatkan efektivitas kerja dengan pengelolaan dokumen melalui berbagai aplikasi digital.
- Mendukung pembelajaran jarak jauh dengan adanya perluasan akses terhadap sumber belajar seperti referensi ilmiah yang bisa dibaca bahkan diunduh secara online dan kesempatan untuk terkoneksi dengan ahli pendidikan di berbagai tempat melalui media sosial.
- Membuka peluang ekonomi digital, misalnya menjadikan media sosial sebagai inspirasi sebelum membuka usaha, mengasah kreativitas untuk berbisnis, dan memanfaatkan platform digital untuk mendapatkan penghasilan tambahan melalui program afiliasi atau pembuatan konten kreatif yang bernilai jual.
- Mendorong partisipasi sosial yang sehat misalnya dalam bentuk diskusi publik secara bertanggung jawab.
- Meningkatkan efisiensi waktu dan biaya karena memudahkan pencarian informasi yang sulit secara singkat. Misalnya urusan terkait pengurusan dokumen kependudukan, perbankan, hingga belanja kebutuhan sehari-hari melalui platform belanja online. Biaya transportasi pun bisa dihemat.
Contoh Penerapan Literasi Digital di Berbagai Sektor
Apa saja contoh literasi digital yang diterapkan di berbagai lingkungan? Simak penjabarannya berikut ini.
1. Bidang Pendidikan
Penerapan literasi digital di bidang pendidikan seperti sekolah atau kampus bisa membuat proses belajar lebih terarah, tersimpan dengan baik, serta melatih kemandirian riset siswa. Contoh:
- Penggunaan Learning Management System (LMS) seperti Google Classroom
- Pengumpulan tugas dalam bentuk portofolio digital
- Riset menggunakan repositori jurnal ilmiah
2. Bidang Keluarga
Literasi digital yang diterapkan dengan baik dalam keluarga akan menjaga keselamatan selama menjelajahi dunia maya. Selain itu, gawai juga bisa dioptimalkan untuk memberikan edukasi keluarga. Contoh:
- Pemasangan fitur ‘Parental Control’ pada gawai anak
- Pembatasan durasi layar (screen time)
- Edukasi berupa video tutorial memasak
- Edukasi berupa video tutorial memperbaiki rumah
3. Bidang Ekonomi dan Bisnis
Dengan menerapkan literasi digital pada bidang ekonomi dan bisnis, jangkauan pasar menjadi lebih luas tanpa kendala jarak. Selain itu, manajemen keuangan bisa lebih rapi. Contoh:
- Migrasi UMKM ke e-commerce
- Pencatatan keuangan menggunakan aplikasi digital
- Promosi produk menggunakan media sosial
4. Bidang Sosial atau Kemasyarakatan
Literasi digital juga bisa diterapkan di bidang sosial untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dan memudahkan mobilisasi. Contoh:
- Penggunaan aplikasi Google Map atau Waze untuk navigasi saat berkendara
- Pelaporan fasilitas publik yang bermasalah atau rusak menggunakan aplikasi pemerintah
- Penggalangan dana menggunakan platform legal
Tantangan Penerapan Literasi Digital di Indonesia
Pada praktiknya, penerapan digital di Indonesia tidak selalu muncul. Ada tantangan yang masih sering dijumpai, seperti:
- Kesadaran terhadap keamanan digital yang masih rendah, sehingga masyarakat rentan terhadap kejahatan siber.
- Infrastruktur yang tidak merata, misalnya kualitas akses internet di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) yang berbeda jika dibandingkan wilayah perkotaan.
- Edukasi terkait perangkat digital yang masih kurang terkadang membuat masyarakat tidak paham cara menggunakan perangkat digital yang aman.
- Kesenjangan pengetahuan terkait literasi karena perbedaan pendidikan dan usia. Hal ini menimbulkan fenomena kelompok lansia yang kerap kali menjadi target utama penyebaran berita hoaks di grup.
Penutup
Ternyata materi literasi digital sangat diperlukan dalam menggunakan internet dan media sosial agar kamu menjadi bijaksana.
Kemampuan menguasai literasi digital memang tidak bisa didapatkan dengan cara instan. Tapi, berusahalah untuk memahami pilar literasi digital dan etika dalam menggunakan platform digital agar tidak mengalami masalah di kemudian hari.
Tidak perlu bingung saat memulai menerapkan pilar-pilar literasi digital. Kamu bisa mulai dari hal yang termudah atau kebiasaan kecil seperti mengecek sumber berita sebelum meneruskannya di grup keluarga.
Sebelum mengetik komentar pada sebuah artikel, biasakan membaca tulisan tersebut sampai selesai.
Jadikan gawai milikmu sebagai alat untuk tumbuh, bukan sumber kecemasan. Yuk, bangun ruang digital yang sehat, aman, dan produktif! 🤳
FAQ
Apa perbedaan literasi digital dan literasi media?Literasi digital berfokus pada kemampuan teknis dan etis menggunakan perangkat serta platform digital, sedangkan literasi media menitikberatkan kemampuan mengevaluasi konten media secara kritis, baik digital maupun konvensional.
Apa saja empat pilar literasi digital menurut Kominfo/Komdigi?Cakap Digital (Digital Skills), Aman Digital (Digital Safety), Budaya Digital (Digital Culture), dan Etika Digital (Digital Ethics), yang dikenal dengan CABE.
Siapa yang mencetuskan istilah literasi digital?Istilah ini dipopulerkan oleh Paul Gilster lewat bukunya berjudul Digital Literacy yang terbit pada 1997.
Bagaimana cara mengukur tingkat literasi digital seseorang atau suatu daerah?Di Indonesia, pengukuran dilakukan lewat Indeks Literasi Digital Indonesia (ILDI) yang disusun Komdigi bersama Katadata Insight Center, mencakup empat pilar CABE dengan skala penilaian 1–5.
4 Pilar Literasi Digital – CABE (Cakap Aman Budaya Etika) [Daring]. Tautan: https://gnld.siberkreasi.id/modul/
Literasi Digital : Ringkasan [Daring]. Tautan: https://www.researchgate.net/publication/355260398_Literasi_Digital_Ringkasan
Literasi Digital: Pengertian, Pilar, dan Manfaatnya [Daring]. Tautan: https://vida.id/id/blog/literasi-digital-adalah
Digital literacy for children: 10 things you need to know [Daring]. Tautan: https://www.unicef.org/innocenti/documents/digital-literacy-children-10-things-you-need-know
Kost Dekat UGM Jogja
Kost Dekat UNPAD Jatinangor
Kost Dekat UNDIP Semarang
Kost Dekat UI Depok
Kost Dekat UB Malang
Kost Dekat Unnes Semarang
Kost Dekat UMY Jogja
Kost Dekat UNY Jogja
Kost Dekat UNS Solo
Kost Dekat ITB Bandung
Kost Dekat UMS Solo
Kost Dekat ITS Surabaya
Label: Contoh Penerapan Literasi Digital literasi digital Materi Literasi Digital
0 Response to "Materi Literasi Digital: Pengertian, Pilar, Manfaat, dan Contoh Penerapannya | KangTunjuk Blog"
Post a Comment